Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan

Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul

Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul ini diangkat dari sebuah kisah nyata yaitu pengalaman Herry, salah seorang warga asal Purwokerto, Jawa Tengah yang kini tinggal di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat.  Waktu itu ia diminta oleh salah seorang kawannya yang bernama Subekti untuk menemani meminta uang kepada Nyai Ratu Kidul.  Ia tidak dapat permintaan Subekti karena selain Subekti lebih tua, Herry juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang bersifat mistik.  Jadilah Herry menemani Subekti ke sebuah goa di daerah Ujung Kulon Banten untuk Minta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul.  Berikut ini adalah Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul.

Sepuluh tahun lalu, Subekti yang merupakan pengusaha sedang mengalami kebangkrutan, ia dililit banyak hutang, bahkan mencapai milyaran rupiah.  Ia telah berupaya kesana kemari untuk mencari uang agar dapat membayar hutangnya. Namun sejauh ini ia belum beruntung, bahkan hutangnya semakin banyak.  Ia tidak berputus asa, ia tetap berusaha dengan segala cara.  Akhirnya ia bertemu dengan salah seorang dukun yang menyarankannya untuk meminta uang kepada Nyai Ratu Kidul.  Ia pun setuju dengan saran dukun itu karena merasa sudah tidak ada jalan lain lagi.  Karena Subekti setuju, lantas sang dukun itu memberitahu cara menemui Nyai Ratu Kidul yaitu harus masuk ke salah satu goa di daerah Ujung Kulon, Banten.


Berbekat niatan yang kuat serta tekad yang telah bulat, Subekti akan menemui Nyai Ratu Kidul.  Ia telah menentukan hari keberangkatannya menuju goa di Ujung Kulon tersebut.  Namun, dalam hatinya ada sedikit rasa takut kalau harus sendirian di dalam goa.  Karena itu, ia berniat untuk mengajak Herry, salah seorang kawannya yang telah malang melintang di dunia mistik dan memiliki keberanian tinggi.


Subekti segera menemui Herry yang tinggal di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat.  Ia mengutarakan kepada Herry tentang niatnya menemui Nyai Ratu Kidul untuk meminta uang.  Herry tidak dapat menolak ajakan Subekti karena selain Subekti lebih tua, Herry juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang bersifat mistik.  Selain itu, Herry juga punya kawan yang memiliki hubungan dekat dengan Nyai Ratu Kidul.


Hari keberangkatan yang telah ditentukan telah tiba, dan mereka berdua berangkat menuju goa di Ujung Kulon tersebut. Sesampai di Ujung Kulon, mereka bertanya kepada beberapa warga tentang goa yang dimaksud  Akhirnya, berkat bantuan dan petunjuk warga, mereka sampai di goa yang dimaksud. Menurut petunjuk sang dukun, mereka harus bermalam di dalam goa tersebut dan tidak boleh tidur sampai bertemu dengan Nyai Ratu Kidul.


Mereka berdua memasuki goa saat waktu menjelang maghrib.  Saat memasuki goa, Subekti sudah merasa merinding.  Ia minta kepada Herry agar Herry saja yang menemui Nyai Ratu Kidul sehingga Herry saja yang berjaga sementara akti tidur di samping Herry. Herry tidak bisa menolak permintaan Subekti.  Ia pun berjaga.


Malam pertama Herry berjaga di dalam goa, tepatnya tengah malam, Herry merasa ada sesuatu yang datang.  Meski dalam kegelapan, Herry masih bisa melihat makhluk bersosok besar bersisik mengkilat berada tepat di depannya.  Makhluk itu melihat Herry tapi tidak berbicara apapun.  Herry hanya diam karena ia berkeyakinan bahwa sosok makhluk tersebut bukanlah Nyai Ratu Kidul.  Herry mengamati makhluk tersebut dan ternyata makhluk  tersebut berbentuk ular yang sangat besar.  Ada rasa gentar juga dalam hati Herry, tetapi karena keyakinannya bahwa ular tersebut bukanlah ular biasa, maka ia mampu meredam rasa takutnya, hingga akhirnya ular besar tersebut menghilang dari hadapannya saat menjelang fajar.


Saat pagi telah tiba, Herry membangunkan Subekti yang tidur pulas di sampingnya. Lalu mereka keluar dari goa tersebut. Herry bercerita kepada Subekti apa yang telah dialaminya. Lalu Herry menelepon kawannya yang bernama Gus Ihya' yang memiliki hubungan dekat dengan Nyai Ratu Kidul.  Ia bercerita kepada Gus Ihya' tentang apa yang sedang dilakukan dan telah dialaminya di dalam goa. Herry minta tolong kepada Gus Ihya' untuk menanyakan kepada Nyai Ratu Kidul apakah benar Nyai Ratu Kidul bisa memberikan uang kepada Subekti.  Lalu, kata Herry, Udin yang tinggal di Purwakarta, Jawa Barat itu berkomunikasi dengan Nyai Ratu Kidul.


Beberapa saat kemudian, Gus Ihya' menelepon Herry dan meminta Herry dan Subekti tidak melanjutkan ritualnya di goa tersebut karena Nyai Ratu Kidul tidak akan pernah memberikan uang kepada sembarang orang, dan Subekti bukanlah orang yang berhak mendapatkan uang dari Nyai Ratu Kidul. Menurut Herry, Udin mengatakan bahwa yang akan datang kepada mereka di goa itu adalah para siluman pengawal Nyai Ratu Kidul yang bisa saja memberikan uang tetapi akan minta imbalan atau kontrak yang berakibat tidak baik bagi diri dan keluarga Subekti.  Gus Ihya' meminta mereka segera pulang ke rumah masing-masing.


Herry menceritakan apa yang telah ia dengar dari Gus Ihya' kepada Subekti, dan Subekti bisa mengerti apa yang dimaksud Gus Ihya'.  Akhirnya mereka meninggalkan goa itu, tetapi Subekti tidak mau pulang ke rumah melainkan minta diantarkan Herry menemui Gus Ihya' karena Subekti ingin minta tolong kepada Gus Ihya'.  Akhirnya mereka bertemu Gus Ihya', dan Gus Ihya' bersedia membantu menyelesaikan masalah hutang Subekti.


Kini, Subekti bersyukur kepada Tuhan selain hutangnya telah lunas, ia juga tidak jadi minta kepada Nyai Ratu Kidul atau para Siluman Pengawal Nyai Ratu Kidul.  Ia pun menyesali perbuatannya yang menyimpang.  Ia bertaubat kepada Tuhan.

Demikian dan terimakasih telah membaca Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul ini.  Semoga dapat menghibur anda.

Cerita Mendadak Menjadi Juragan Mobil Angkutan Kota dalam Sekejap

Namaku Welly, saat ini aku sudah berusia 62 tahun. Aku tinggal di daerah Jakarta Pusat. Sekitar 5 tahun yang lalu aku diajak seorang kawan yang bernama  Doni ke daerah pinggiran Bekasi.  Waktu itu Doni bekerja sebagai Supir mobil Angkutan Kota. Sebagai kawan, aku mengiyakan saja permintaannya, akupun tidak menanyakan apa tujuannya.  Ini adalah Cerita Mendadak Menjadi Juragan Mobil Angkutan Kota dalam Sekejap.

Malam itu, tepatnya malam Jum’at jam 20.00 lima tahun yang lalu, dengan menggunakan mobil bututku, aku dan Doni berangkat dari Jakarta ke sebuah perkampungan di daerah Bekasi. Setelah sampai di tempat tujuan, kami memasuki sebuah gubug kecil yang hanya diterangi lampu tempel. Di rumah itu, kami diterima oleh Bang Samin. Kepada bang Samin, Doni mengutarakan maksud kedatangannya. Baru aku tahu bahwa tujuan Doni adalah untuk mencari nomor kode Judi Togel dan bang Samin adalah semacam juru kunci.



Setelah mendengar maksud dan tujuan kedatangan Doni, bang Samin mempersilakan Doni untuk bermalam di samping sebuah makam tua yang letaknya tak jauh dari gubug itu.  Karena merasa takut, Doni minta kepada Bang Samin ijin untuk diperbolehkan aku dampingi, dan bang Saminpun menijinkannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, aku dan Doni segera menuju ke makam tua yang ditunjukkan oleh bang Samin.  Lokasi makam tua itu ada di tengah persawahan. Setelah sampai di makam tua itu, kami duduk di samping makam.  Doni si sisi barat makam sedang aku di sisi timur.  Tak berapa lama, Doni mengantuk dan tertidur. Karena aku terbiasa jaga malam, maka aku tak mengantuk. Aku hany bisa diam sambil merokok.

Beberapa saat kemudian, di saat Doni terpulas dengan tidurnya, tiba-tiba aku dikagetkan dengan adanya kursi berjalan melintas di depanku bersamaan dengan hembusan angin kencang.  Setelah melintas di depanku,  kursi itu lenyap tak terlihat. Aku hanya terbengong karena kaget.  Aku tak menghiraukannya,  aku tetap diam sambil menikmati hangatnya rokok kretek. Riba-tiba aku dikagetkan lagi dengan adanya ban mobil yang menggelinding di depanku, sama seperti sebelumnya, ban itu menggelinding disertai hembusan angin kencang.  Aku masih diam. Beberapa saat kemudian, aku dikagetkan lagi dengan adanya tongkat yang berjalan melintas di depanku.  Aku mulai curiga, tapi aku diamkan saja.  Sesaat kemudian kembali ada dua roda melintas di depanku lagi.  Akupun tetap tenang, tidak mempedulikannya.

Selang beberapa menit, tiba-2 terdengan adzan subuh dari perkampungan.  Akupun membangunkan Doni dan mengajak Doni kembali ke gubung itu.
Setelah sampai di gubug it, Doni ditanya oleh bang Samin, “bagaimana?, dapat firasat apa), tanya bang Samin kepada Doni.  Lalu Doni menjawab “tidak ada apa-apa bang”. Lalu bang Samin bertanya kepadaku “bagaimana? Mendapatkan firasat atau kejadian apa?, tanya bang Samin.  Lalu aku menceritakan  apa yang aku alami kepada bang Samin,

Mendengar apa yang aku ceritakan, bang Samin menjelaskan bahwa kursi yang melayang di depanku melambangkan angka 4, lalu roda menunjukkan angka 0, tongkat menujukkan angka 7 dan roda dua roda menunjukkan angka 8. Jadi kode angkanya adalah 4078.

Setelah mendapatkan penjelasan, lalu Doni pamit pulang.  Sebelum pulang ia berjanji kepada bang Samin bahwa kalau ia menang dan ia mendapatkan hadiah uang, maka ia akan membelikan bang Samin sebuah televisi. Lalu kamipun kembali pulang ke Jakarta.

 Keesokan harinya, Doni memasang angka kode judi yang ia dapatkan dan ia menang serta mendapatkan hadiah milyaran rupiah.  Doni mendadak jadi orang kaya.  Uang yang ia dapatkan digunakannya untuk membeli sebuah rumah dan sepuluh buah mobil armada Angkutan Kota, ia yang semula sebagai Supir mobil Angkutan kota, mendadak ia menjadi Juragan mobil Angkutan Kota.  Sejak itu aku tak pernah bertemu Doni lagi.

Tetapi itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu dua tahun, rumah dan semua mobil armada Angkutan Kota yang ia miliki dari hasil Judi Togel itu habis ia jual, Doni bangkrut, dan kini ia kembali menjadi Supir mobil Angkutan Kota lagi.

Saat ia kembali menjadi supir angkutan kota lagi, ia datang ke rumahku dalam keadaan lusuh untuk meminjam uang buat keperluan bayar uang kontrakan rumah. Akupun kaget dengan kondisinya. Lalu ia menceritakan perjalanan usahanya, ia tak tahu kenapa bisa bangkrut.  Iapun minta maaf karena saat ia kaya ia melupakanku. Lalu aku bertanya kepadanya “apa kamu sudah membelikan bang Samin televisi seperti yang pernah kamu janjikan?”, “wah iya, aku bener-bener lupa Wel, kenapa kamu gak ngingetin aku?, apa karena itu aku bangkrut?”. Aku hanya bilang “wallahu a’lam bis shawab, tapi yang penting menurutku kembalilah kamu ke jalan yang benar, bertaubatlah sebelum kau terlambat, masih ada waktu”, kataku sambil memberikan uang kepdanya buat keperluannya membayar uang kontrakan rumah.  Lalu ia berpamitan pulang, dan hingga kini aku tak pernah bertemu lagi.

Sebagai kawan, aku hanya bisa bermohon kepada Tuhan agar Tuhan berkenan mengampuninya dan menunjukkan jalan yang benar kepadanya.

Demikianlah kisah Cerita Mendadak Menjadi Juragan Mobil Angkutan Kota dalam Sekejap, terima kasih telah membacanya dan semoga dapat menghibur anda.

Cerita Mendapat Uang 500 Juta Rupiah dari Makhluk Gaib



Ilustrasi Makhluk Gaib

Waktu itu, sekitar empat tahun yang lalu, aku diajak kawanku yang bernama Wahyu untuk menemui makhluk gaib di daerah Garut yang katanya mau memberi uang 500 juta rupiah kepadanya. Meskipun aku sendiri tidak percaya, tapi aku setuju saja karena akan ada imbalan uang  kalau acara itu berhasil.  Setelah aku setuju, akhirnya hari dan jam keberangkatan ditentukan.  Menurut ceritanya, ia akan meminta uang kepada Makhluk Gaib itu sebesar 5 milyar rupiah.  Berkut ini adalah Cerita MendapatUang 500 juta rupiah dari Makhluk Gaib.

Saat hari dan waktu keberangkatan yang telah ditentukan tiba, aku berangkat menuju ke rumah Wahyu, lalu tepat pukul 14.00, Kami berangkat berdua dengan mengendarai mobil.  Tepat jam 20.00 sampailah kami di kota Garut.  Karena sudah saatnya makan malam, mampir di sebuah warung. Usai makan malam, kami melanjutkan perjalanan.  Sekitar 1 jam perjalanan, tepat jam 22.00 tibalah kami di suatu perkampungan. Mobil yang dikemudikan Wahyu melaju perlahahan memasuki gang-gang yang ada di perkampungan itu.  Akhirnya mobil berhenti di halaman sebuah rumah sederhana, tapi halamannya cukup luas. Kami turun dari kendaraan lalu Wahyu mengetuk pintu rumah itu sambil memberi salam kepada penghuni rumah.
Terdengar jawaban salam dari dalam rumah, lalu seorang laki-laki muda membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tak seberapa lama, tiga cangkir kopi panas terhidang di hadapan kami. Lalu seorang lelaki paruh baya menemui kami.  Namanya pak Anwar. Setelah mereka berbincang-bincang, aku tahu bahwa pak Anwar adalah semacam juru kunci yang akan mempertemukan Wahyu dengan makhluk gaib tersebut.

Tepat jam 23.00, pak Anwar bertanya kepada Wahtyu “bagaimana pak, sudah siap?”. “Siap pak”, jawab Wahyu.  Lalu pak Anwar mengajak kami masuk ke ruang tengah, kami semua duduk di lantai beralaskan karpet.  Di ruang tengah tersebut pak Anwar berkata kepada Wahyu. “begini pak, saya di sini hanya mempertemukan bapak dengan makhluk gaib itu, saya akan undang dia.  Masalah keberhasilan bukan di tangan saya ya”. “ya pak”, jawab Wahyu.

Lalu pak Anwar berkata lagi kepada Wahyu “nanti, saya akan masuk kamar dulu untuk mengundang makhluk gaib itu, dan kalau makhluk gaib itu datang, nanti bapak saya panggil untuk masuk dan bicara sendiri ya”. “baik pak”, jawab Wahyu.

“nanti ada lima pertanyaan yang akan diajukan kepada bapak oleh Makhluk gaib itu.  Pertanyaannya adalah siapa nama bapak, lalu  bapak lahir hari apa, siapa nama ibu kandung bapak,  bapak ada perlu apa dan untuk apa. Bapak harus bisa menjawab dengan benar semua pertanyaan itu”. Kata pak Anwar menjelaskan. “siap pak” jawab Wahyu. Aku hanya mendengarkan saja.

Kemudian pak Anwar memasuki kamar yang ada di sebelah ruang tengah itu, lalu pintu kamar ditutup, yang terdengar hanyalah suara pak Anwar yang sedang membaca do’a-do’a memanggil makhluk gaib.  Beberapa saat kemudian terdengar suara keras di atap rumah “dhug dhug dhug”, lalu terdengar suara pak Anwar sedang berdialog dengan seseorang yang bersuara agak bindheng. Setelah itu ada lagi suara dhug dhug di atap rumah, kemudian ada suara seperti mesin hitung uang yang pernah aku dengar di bank.

Kemudian pak Anwar keluar memanggil Wahyu, “mari pak, silakan masuk”.  “Saya takut pak”, kata Wahyu. “bagaimana pak, ini makhluk gaibnya sudah datang, dan uang juga sudah disiapkan”, kata pak Anwar. Lalu Wahyu menunjukku “kalau kamu saja bagaimana?” kata Wahyu kepadaku. “kalau diijinkan ya gak apa-apa”, jawabku.  “ya sudah tidak apa-apa”, kata pak Anwar, lalu aku masuk kamar itu bersama pak Anwar.

Aku duduk di samping pak Anwar.  Aku perhatikan dengan seksama semu keadaan kamar yang gelap itu,  Ada sosok  hitam di depanku sambil mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku.  Semua pertanyaan aku jawab dengan benar, termasuk pertanyaan “kamu mau apa”, aku jawab “aku mau minta uang sebanyak 500 juta rupiah”.  “untuk apa?”, aku jawab “untuk bayar hutang, untuk modal usaha dan untuk bekal hidup serta ibadah”.

Lalu makhluk gaib itu berkata “sekarang saya mau menyerahkan uang itu kepadamu, berdirilah dan kita berjabat tangan untuk serah terima. Lalu aku berdiri dan karena gelap dan aku hanya menyodorkan tanganku saja tapi tanganku disambut dengan jabatan tangan besar berbulu. Lalu terdengar duara “aku serahkan uang 500 juta  kepadamu untuk dimanfaatkan”. “ya aku terima”, jawabku.  Lalu tangan yang menjabatku tiba-tiba hilang dan terdengan suara keras dhug dhug dhug.

“Alhamdulillah”, kata pak Anwar sambil menyalakan lampu. Lalu pak Anwar berkata “uang itu sebenarnya hak pak Seno karena yang akad adalah pak Seno, tapi terserah pak Seno” . “saya serahkan kepada pak Wahyu karena pak Wahyu yang berkepentingan”, jawabku sambil menyerahkan uang 500 juta kepada Wahyu. Wahyu sujud syukur lalu memelukku sambil terisak tak kuasa menahan tangis.   Ia sangat membutuhkan uang itu untuk melunasi hutang-hutangnya.

Setelah dikeluarkan zakat dan sedekahnya dan setelah dipotong keperluan membayar hutang, ada  sia uang 50 juta rupiah. Aku, pak Wahyu, pak Bambang dan pak Anwar masing-masing mendapat 10 juta rupaih, ada sisa uang 10 juta rupiah diserahkan kepada pak Anwar untuk biaya tasyakkuran. Alhamdulillah.

Demikian Cerita Mendapat Uang 500 Juta Rupiah dari Makhluk Gaib.Semoga dapat menghibur anda.

Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong Membeli Bakso

Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong Membeli Bakso adalah cerita mistik yang dialami oleh Edi, penjual bakso.  Edi, seorang penjual bakso keliling di sebuah perumahan di Jakarta Timur.  Cerita ini diangkat dari sebuah peristiwa yang dialaminya saat ia  sedang menjual bakso di perumahan tersebut. Ia bertemu dengan hantu Sundel Bolong yang membeli baksonya.  Peristiwa ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Berikut ini adalah Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong Membeli Bakso.

Nama saya Edi, Saya menjalani pekerjaan saya berjualan bakso keliling di komplek perumahan tersebut sudah cukup lama, yaitu sejak 15 tahun yang lalu.  Tapi, sejak saya berjualan di perumahan itu, baru kali itu saya bertemu hantu.  Saya memang berjualan malam hari, berangkat selepas shalat maghrib dan sampai di perumahan itu biasanya pas waktu shalat Isya’.  Biasanya saya pulang dagang sekitar jam 11.30 malam.
Waktu itu, sekitar 3 tahun yang lalu, setibanya saya di komplel perumahan itu, tidak seperti biasanya saya langsung berkeliling komplek tapi saya nongkrong dulu di tempat cucian mobil yang ada di komplek perumahan itu.  Di tempat cucian mobil itu, sampai jam 8 malam, belum juga saya dapat penglaris walaupun cucian mobil sedang ramai.  Akhirnya saya berjalan mendorong gerobak bakso saya untuk  berkeliling menjajakan bakso sambil memukul-mukul kentongan kentongan berharap ada yang membeli bakso saya.

Tidak seperti biasanya pula, saya berjalan di sisi kanan jalan, saya tidak tahu kenapa.  Setalah melewati 4 rumah dari tempat cucian mobil itu, di depan saya ada seorang wanita berambut panjang bergaun putih menghentikan saya, “baksonya dong bang, campur ya”, kata wanita itu.  Saya bersyukur, Alhamdulillah, akhirnya dapat juga penglaris malam ini, kata saya dalam hati.  Tanpa banyak bicara, saya langsung melayani permintaan wanita itu.  Setelah selesai menyiapkan pesanannya, saya sodorkan semangkok bakso kepada wanita itu, “ini mbak”, kata saya, dan wanita itu menerimanya.

Sambil menunggu ia makan, saya turunkan kursi plastik yang ada di atas gerobak bakso saya agar saya bisa duduk menunggu wanita itu selesai makan baksonya. Baru saja kursi plastik saya taruh di atas tanah dan saya belum sempat duduk, wanita itu sudah menyodorkan mangkok kosong kepada saya sambil berkata “lagi dong bang, lapar nih”.  Tanpa banyak tanya, saya layani saja permintaan wanita itu. Setalah selesai menyiapkan permintaannya, saya sodorkan semangkok bakso kepada wanita itu, “ini mbak”, kata saya dan wanita itupun menerimanya.

Lalu saya duduk lagi.  Baru saja saya duduk, wanita itu sudah mengembalikan mangkok kosong kepada saya sambil berkata “tambah satu lagi ya bang, benar-benar lapar nih”. “ya mbak, tenang saja kalau sama saya mah”, jawab saya sambil menyiapkan permintaannya.  Setelah selesai, saya sodorkan lagi semangkok bakso kepada wanita itu.  Setelah diterimanya, saya duduk lagi. Dan baru saja saya duduk, wanita itu sudah menyodorkan mangkok kosongnya  “makasih ya bang, ini uangnya, kembaliannya buat abang saja ya”, katanya sambil memberikan selembar uang kertas duapuluh ribuan. “ya mbak, makasih juga”, kata saya sambil memasukkan uang ke saku.

Saat itu saya baru sadar bahwa ada yang aneh, lalu saya perhatikan wanita itu ternyata berjalan memasuki kebun yang ada di pinggir jalan dan masuk ke rerimbunan, dan saya melihat punggungnya berlubang dan berdarah. “Waduh, Hantu Sundel Bolong”, kata saya dalam hati.  Tanpa banyak pikir, saya angkat kursi plastik dan saya taruh kembali di atas gerobak dan bergegas pergi dari tempat itu.

Saya menyeberang agar tidak di sisi kebun, pas sampai pertigaan, saya belok kiri menuju masjid.  Sampai di masjid saya langsung duduk di tangga serambi sambil menenangkan diri. Saya masih teringat bayangan hantu Sundel Bolong itu. Terus terang, hati saya deg-degan, seumur-umur baru kali ini saya bertemu hantu.

Tidak berapa lama saya duduk, tiba-tiba ada banyak orang memasuki halaman masjid, kira-kira ada kalau 100 orang. Lalu mereka memasuki masjid dan shalat berjama’ah.  Rupanya mereka adalah rombongan wisata majlis ta’lim, ada dua bis di jalan depan masjid.

Usai mereka shalat berjama’ah, mereka seperti berebut  membeli bakso saya, saya sampai kerepotan.  Dan baru kali ini saya diserbu pembeli.  Tapi dengan sabar saya layani mereka satu persatu, sampai habis dagangan saya, sementara masih banyak yang belum kebagian.

Saat menerima pembayaran, saya juga kerepotan menerima uang dan memberikan uang kembalian, tapi  mereka malah tidak mau dikasih uang kembalian.  Ada yang bayar 10 ribu, ada yang 20 ribu.  Lalu merekapun kembali ke bus mereka.

Setelah bus mereka berangkat, sayapun mendorong gerobak untuk pulang, tapi tidak lewat jalan yang tadi saat saya ketemu hantu sundel bolong.  Sambil berjalan saya bersyukur “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah”, kata saya dalam hati sepanjang perjalanan.
Saya sampai di rumah pas pukul 10 malam.  Setelah saya hitung, malam itu saya medapat uang 2.5 juta rupiah. Alhamdulillah.


Demikianlah Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong MembeliBakso ini, semoga dapat menghibur anda,

Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan



Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan ini diangkat dari peristiwa yang kami alami. Tiga tahun yang lalu, kami sekeluarga terpaksa harus pindah rumah kontrakan.  Waktu itu kami bingung harus pindah kemana. Setelah mencari-cari informasi rumah kontrakan yang kosong di sekitar tempat tinggalku, akhirnya aku menemukan satu rumah petak yang ada di sudut pertigaan jalan.  Di rumah itulah Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan ini terjadi. Tempatnya cukup strategis untuk usaha, di pinggir jalan, walaupun jalan kecil tetapi cukup ramai. 

Setelah melihat situasi yang cukup ramai ini, akupun berpikir untuk buka usaha berjualan pulsa agar bisa membantu pendapatan keluarga, kebetulan ada etalase nganggur, pas buat usaha jual pulsa. Tanpa banyak pikir, kami langsung membayar uang kontrak kepada pemilik rumah agar kami segera bisa pindah ke rumah kontrakan yang baru itu.

Sebelum kami sekeluarga menempati rumah kontrakan yang baru itu, suamiku terlebih dahulu membersihkan rumah itu dan melakukan sedikit ritual dengan membaca do’a-do’a untuk memohon kepada Tuhan agar kami mendapat berkah dari-Nya. Setelah itu baru kami sekeluarga pindah dan menempat rumah kontrakan itu. 

Setelah semua barang-barang sudah kami pindahkan ke rumah kami yang baru, kami langsung menata semua perabot rumah, tidak terlalu lama karena barang-barang kami memang tidak banyak. Akupun langsung meletakkan etalase  di teras rumah untuk tempatku usaha berjualan pulsa. Meskipun cukup melelahkan, tapi kami senang dan merasa nyaman di rumah kontrakan kami yang baru itu. Saat itu juga, aku tetepon kakakku untuk dibantu modal buat usaha berjualan pulsa, dan uang modal pun langsung ditransfer ke rekeningku.  Aku langsung belanja pulsa ke agen pulsa.  Aku juga minta banner ke agen pulsa untuk dipasang di teras rumah tempat aku usaha jual pulsa.

Selesai belanja pulsa dan segala perlengkapannya akupun pulang dan sampai di rumah pas menjelang maghrib. Aku langsung pasang banner dan menata semua perlengkapan usaha jualan pulsa di etalase.  Semua berjalan lancar dan cepat.  Semua selesai pas adzan maghrib dikumandangkan di mushalla dekat rumah kontrakan.  Lalu kami sekeluarga bersama-sama pergi ke mushalla untuk  menunaikan shalat maghrib berjama’ah di mushalla.

Malampun tiba, usai shalat isya’ dan makan malam, kami segera tidur karena cukup kelelahan seharian mengatur dan menata rumah kontrakan kami yang baru serta belanja pulsa dan  segala perlengkapan usaha berjualan pulsa.  Kamipun segera terlelap.

Seperti biasa, pas jam 12 malam aku terbangun, aku menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur untuk mengambil air wudlu’ untuk melakukan shalat malam. Saat membuka kelambu pintu dapur, aku terkejut, ada sosok wanita berkerudung hitam berdiri di dapur melihatku. “Astaghfrullahal ‘Adzim”, ucapku spontan.  “jangan takut, aku memang sengaja menemuimu. Namaku Laras, aku juga tinggal di rumah ini, tapi aku tidak akan mengganggumu dan semua keluargamu.  Aku suka kalian tinggal d rumah ini, kalian rajin shalat dan mengaji, au juga akan membantu usahamu. Insya Allah lancar dan beruntung. Assalamu’alaikum”, kata wanita itu dan langsung menghilang. “wa’alaikumussalam”, jawabku.  Dengan dada mash berdebar karena rasa kaget bercampur takut, aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu’, lalu aku melakukan shalat malam dan berdo’a sebisaku.  Usai shalat malam dan berdo’a, au kembali tidur.

Kami terbangun saat gema tarhim dikumandangkan di mushalla, pertanda sebentar lagi waktu shubuh tiba. Kami segera bergiliran mandi dan bersiap-siap menunaikan shalat shubuh berjama’ah di mushalla.  Usai berjama’ah,  aku mempersiapkan sarapan pagi. Aku beli nasi uduk di warung pok Lela, seberang rumah kontrakan.  Kamipun sarapan pagi berjama’ah. Usai sarapan, suamiku berangkat kerja dan aku mengantar  dua anakku ke sekolah.

Pulang mengantar anak ke sekolah, aku langsung cuci kaki dan ambil air wudlu’ lalu dengan membaca Basmalah aku mulai buka usaha jualan pulsa.  Aku buka kain penutup etalase, dan aku pasang tulisan “Jual Pulsa”, di atas etalase.  Hari memang masih pagi, jalanan cukup ramai. Aku duduk dan membaca buku  sambil menunggu pelanggan datang. Alhamdulllah, hari pertama aku membuka usaha Jualan Pulsa sudah mendapatkan banyak pelanggan.

Detik demi detik, dan hari demi hari kami lalui dengan usaha, do’a dan rasa syukur. Alhamdulillah, usaha sampai hari ini, jualan pulsa yang aku jalankan dengan penuh ketekunan, meskipun harus disela dengan mengurus keluarga, berjalan dengan baik dan mendapatkan keuntungan. Dan yang sangat membuatku bahagia, dari usahaku ini, selain bisa menambah pendapatan keluarga, kami juga bisa menyisihkan hasil usaha kami untuk membantu tetangga-tetangga kami yang sedang membutuhkan uluran tangan.

Tak lupa pula, setiap usai shalat, selain aku berdo’a untuk kedua orang tua, aku juga berdo’a untuk Laras, makhluk halus penunggu rumah kontrakanku.  Setidaknya, selain aku bersyukur kepada Tuhan, aku berterima kasih kepada Laras,  makhluk halus penungg rumah kontrakanku, atas dukungan moril yang diberkan saat aku berjumpa dengannya di malam itu.

Demikianlah Cerita Bertemu Hantu Baik hati PenungguRumah Kontrakan.  Semoga dapat menghibur anda.

Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso



Hantu Wanita Bergaun Putih
Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso ini diangkat dari kisah nyata kejadian yang dialami Supeno, salah seorang pedagang bakso keliling di Jakarta Timur.  Cerita Hantu memang cukup mengasyikkan, terlepas dari percaya atau tidak, cerita hantu memang ada di masyarakat. Peristiwa ini terjadi lima tahun yang lalu, pas Malam Jum’at Kliwon saat Supeno sedang berkeliling di sebuah perkampungan menjajakan bakso.  Berikut ini adalah Cerita Hantu Wanita MemesanBakso.

Malam itu, lima tahun yang lalu, tidak seperti biasanya jalanan di perkampungan tempat saya biasa menjajakan bakso terasa sepi. Sampai jam 9 malam baru 10 mangkok bakso yang saya jual.  “sepi banget ya malam ini”, kata saya dalam hati sambil berjalan mendorong gerobak bakso dan memukul-mukul kentongan untuk memberi tanda bahwa tukang bakso sedang jualan bakso.

Tepat di sebuah pertigaan jalan saya sempat bimbang, mau belok ke kiri apa ke kanan. Dua-duanya terlihat sepi.  Akhirnya saya putuskan ambil jalan kanan. Baru melewati dua rumah, ada seorang wanita bergaun putih keluar dari pagar rumah memanggil saya “bang, baksonya satu ya”. “ya bu”, jawab saya dan saya lihat wanita itu kembali masuk pagar. Sayapun langsung menyiapkan satu porsi bakso yang dipesan.
Setelah usai saya menyiapkan satu mangkok bakso pesanan wanita itu, sayapun mengantarnya ke rumah tempat wanita itu. Sampai di depan pagar saya sempat heran “kok pintu pagarnya ditutup ya, diselot lagi, padahal ibu tadi perasaan tidak membuka dan tidak menutup pagar”, kata saya dalam hati. Saya menepis keheranan saya itu, saya buka bagar. Walaupun diselot tapi tidak dikunci. Saya langung masuk menuju pintu.  Pintunya tertutup.

Sesampai di depan pintu, perlahan saya ketok “tok tok tok, permisi, ini baksonya bu”, kata saya kepada wanita tadi yang saya yakini adalah penghuni rumah ini. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, saya ketok lagi “tok tok tok, permisi, ini baksonya bu”, kata saya lagi agak keras.  Akhirnya terdengar langkah kaki dari dalam rumah dan pintupun dibuka. Yang membuka adalah seorang wanita muda dan bertanya “ada apa mas?”. “ini mbak, tadi ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso sama saya” jawab saya kepada wanita muda itu. “Ibu-ibu?, di rumah ini tidak ada ibu-ibu mas, saya di sini cuma tinggal bertiga dengan  suami dan anak saya mas”, kata wanita muda itu. “ya tadi sih masuk ke sini mbak”, kata saya.

Tiba-tiba seorang lelaki muda yang tentunya suami wanita muda ini keluar dari dalam rumah dan bertanya “ada apa sih malam-malam kok ribut”. “ini abang tukang bakso ini mengantarkan bakso, katanya ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso.  Padahal kan di rumah ini cuma kita bertiga”, jawab wanita muda itu. “gitu aja kok ribut, ya sudah, sini baksonya, biar saya yang makan, tapi bikinkan satu lagi ya buat istri saya”, kata lelaki muda itu.  Sayapun bergegas menyerahkan semangkok bakso kepadanya dan bergegas menyiapkan semangkok bakso lagi.

Setelah selesai menyiapkan, saya antar bakso ke rumah tersebut. “ini mbak baksonya”, kata saya sambil menyerahkan semangkok bakso kepada wanita itu. “duduk sini dulu mas”, kata lelaki muda itu sambil mempersilakan saya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu. “ya mas, makasih”, kata saya. Dia makan di teras, sementara istrinya masuk membawa bakso, tak lama kemudian istrinya menyerahkan mangkok yang sudah kosong kepada saya, mungkin langsung dipindah ke mangkoknya sendiri.

“emang bener tadi ada ibu-ibu pesan bakso, jangan-jangan kamu cuma ngarang aja biar baksomu laku”, kata lelaki itu berkelekar sambil tersenyum kepada saya. “untuk apa saya bohong mas, saya kan tiap hari jualan di sini, memang benar kok tadi ada ibu-ibu yang pesan”, jawab saya.
“ciri-cirinya bagaimana?” tanya lelaki muda itu. “ya ibu-ibu tidak terlalu tua sih, pakai baju panjang warna putih, rambutnya agak panjang”, jawab saya.

“lalu dari mana asalnya dan kemana?”, tanya lelaki muda itu lagi. “tadi keluar dari rumah ini dan masuk lagi ke rumah ini mas, tapi yang saya heran, saya tidak mendengar dia membuka pintu pagar dan menutup pintu pagar, padahal waktu saya masuk, pagarnya ditutup dan diselot, waktu saya buka selotnya, bunyinya cukup keras mas”, jawab saya.
“ya, tidak salah, kata orang-orang di sekitar sini, memang dia kadang-kadang muncul, tapi saya sampai hari ini belum pernah bertemu sama dia”, kata lelaki muda itu.
“maksudnya mas?”, tanya saya lagi. Lelaki muda itu menjawab “kata orang-orang di sekitar sini, dia itu makhluk halus yang tinggal di rumah ini, itu sih kata orang, kami sendiri  yang tinggal di sini belum pernah bertemu”.  Langsung merinding bulukuduk saya mendengar penjelasan lelaki muda itu, ada rasa takut menjalar di tubuh saya. Dan rupanya ketakutan saya terlihat oleh lelaki muda itu. “ya gak usah takut mas, biasa saja. Ini uangnya”, kata lelaki itu sambil menyodorkan uang sepuluhribu rupiah kepada saya. “baik mas, makasih ya mas”, kata saya sambil bergegas meninggalkan rumah itu.

Setelah selesai sata letakkan mangkok di dalam gerobak, dengan penuh rasa ketakutan, sayapun langsung mendorong gerobak menjauhi rumah itu. Sekian.   

Demikianlah Cerita Hantu WanitaMemesan Bakso.  Semoga dapat menghibur anda.

Cerita Minta Uang kepada Gondoruwo Untuk Bayar Hutang


Foto Ilustrasi Gondoruwo

Cerita Mistik. Cerita Minta Uang kepada Gondoruwo Untuk Bayar Hutang. ini adalah kisah nyata yang dikirim oleh salah seorang pembaca setia infomistik.com yang kini tinggal di Madiun.  Dalam cerita yang berjudul “Cerita Minta Uang kepada Gondoruwo Untuk Bayar Hutang” ini Sukamto menceritakan  pengalalamannya yang terjadi pada dua puluh lima tahun yang lalu, karena kondisi ekonomi keluarga yang begitu memprihatinkan, dan ia terbelit utang serta tidak punya penghasilan tetap untuk membayar uang tersebut, maka ia meminta uang kepada Gondoruwo untuk membayar utangnya.  Berikut adalah “Cerita MintaUang kepada Gondoruwo Untuk Bayar Hutang”.

Kala itu, saat saya berusia 27 tahun dan saya sudah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak. Saat itu saya belum memiliki pekerjaan tetap, saya hanya buruh serabutan yang kadang ada pendapatan kadang juga tidak ada sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, saya berhutang sekedar untuk makan dan kebutuhan dasar hidup keluarga, bahkan sampai berhutang kepada rentenir.

Suatu ketika, total jumlah hutang saya saat itu mencapai Rp. 2.700.000,-.  Rentenir menagih saya, dan jika saya tidak melunasi hutang saya dalam waktu tiga hari, maka rumah orang tua saya akan disita dan saya akan dilaporkan ke Polisi. Saya benar-benar bingung, mau kemana lagi,

Dalam kebingungan itu, saya mencoba menemui seorang kawan yang tinggal di dareah Nganjuk, namanya Yanto.  Setelah bertemu, saya menceritakan kondisi saya tersebut dan saya berharap dia bisa membantu saya.  Singkat cerita, dia menawari saya untuk minta uang kepada Gondoruwo yang ia kenal.  Mendapatkan tawaran itu, saya kaget, mana mungkin?, dan apa tidak ada akibat di belakang hari?, akhirnya sebelum saya menerima tawaran tersebut, saya menanyakan lebih jauh kepada Yanto.

“Apa tidak dosa minta uang kepada Gondoruwo?”, tanya saya kepada Yanto. “dosa bagaimana?, apa kamu dosa minta uang sama aku?”, jawab Yanto sembari balik bertanya kepada saya. “ya kalau minta ke kamu ya gak apa-apa, tapi Gondoruwo kan makhluk gaib, hantu”, jawab saya. “trus apa bedanya saya dengan hantu, sama-sama makhluk Tuhan.  Alam seisinya ini diciptakan oleh Tuhan untuk kemakmuran manusia, termasuk juga Gondoruwo. Yang dosa itu kalau kita minta rejeki kepada makhluk, mau makhluk gaib atau makhluk nyata itu tidak boleh, itu musyrik namanya.  Kalu minta rejeki ya kepada Tuhan.  Lha ini kan minta uang, sama saja dengan minta uang sama aku, sama pamanmu dan lainnya”,  jelas Yanto.

Saya termerenung, lalu saya bertanya lagi “apa tidak ada akibatnya?”, “ya ada, yang jelas, kalau kamu dikasih ya akibatnya kamu punya duit buat bayar hutang dan kamu tidak pusing lagi”, jawab Yanto. “bukan itu maksudku, nanti dia nagih ke aku atau anak turunanku atau bagaimana”, kata saya kepada Yanto. “nagih bagaimana, memangnya kamu hutang sama dia?, kan minta. Bukan hutang.  Kalau kamu hutang atau pinjam uang, ya pasti ditagih”. Jelsa Yanto.

Singkat cerita, saya menerima tawaran itu, dan malam harinya saya dipertemukan oleh yanto dengan Gondoruwo itu di sebuah kamar di rumah Yanto.  Kamar itu Gelap karena lampu dimatikan, tapi saya masih bisa melihat sosok tinggi besar karena masih ada sedikit cahaya lampu yang menerobos lewat lubang angin-angin.  Baru pertama kali ini saya melihat sosok Gonforuwo yang menyeramkan itu, tapi apa boleh buat, saya harus mendapatkan uang untuk membayar hutang.

Dalam pertemuan dengan Gondoruwo itu, Yanto mengutarakan kepada Gondoruwo bahwa saya mau minta uang.  Lalu Gondoruwo itu bertanya kepada saya “siapa namamu?”, saya jawab “Sukamto”, lalu Gondoruwo itu bertanya “kamu mau apa?”, sayapun menjawab “saya mau minta uang Rp. 2.700.000,-“.  Lalu Gondoruwo itu bertanya lagi “buat apa?”, sayapun menjawab “buat bayar hutang”. Gondoruwo diam, lalu dia berkata “Saya ada Rp. 10.000.000, terimalah”.  Sayapun menjawab “saya hany perlu Rp. 2.700.000 saja”. “Baiklah kalau begitu”, kata Gondoruwo.  Lalu Gondoruwo itu menyerahkan segepok uang kepada saya, lalu dia pergi sambil mengucapkan salam.  Setelah menjawab salamnya, saya dan yanto keluar kamar. Lalu kami hitung uang itu, dan Pas, Rp. 2.700.000.

Lalu Yanto berkata “kamu ini aneh, dikasih lebih gak mau, kan bisa dipakai buat modal usaha”. “Nggaklah, dari rumah aku kan ke sini buat dapatkan uang Rp. 2.700.000, aku gak mau serakah, biarlah, ini juga aku sudah sangat bersyukur”, jawab saya.

Lalu anto mengingatkan saya “kamu keluarkan dulu dua setegah persen buat zakatnya, kasih ke fakir miskin”, “Ya, tapi jadi kurang Yan”, kata saya. “Sudahlah, nanti kurangnya aku pinjami”, kata Yanto.  Lalu saya hitung dan saya keluarkan dua setengah persennya, yaitu Rp. 67.500. Dan Yanto malah memberi saya pinjaman uang Rp. 75.000 serta memberi saya Rp. 25.000 dan dua gantang beras. 

Demikianlah Cerita Minta Uang kepada Gondoruwo Untuk BayarHutang.  Saya bersyukur kepad Tuhan, akhirnya saya bisa melunasi Hutang.
 
Support :