Tampilkan postingan dengan label mistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mistik. Tampilkan semua postingan

Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul

Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul ini diangkat dari sebuah kisah nyata yaitu pengalaman Herry, salah seorang warga asal Purwokerto, Jawa Tengah yang kini tinggal di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat.  Waktu itu ia diminta oleh salah seorang kawannya yang bernama Subekti untuk menemani meminta uang kepada Nyai Ratu Kidul.  Ia tidak dapat permintaan Subekti karena selain Subekti lebih tua, Herry juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang bersifat mistik.  Jadilah Herry menemani Subekti ke sebuah goa di daerah Ujung Kulon Banten untuk Minta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul.  Berikut ini adalah Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul.

Sepuluh tahun lalu, Subekti yang merupakan pengusaha sedang mengalami kebangkrutan, ia dililit banyak hutang, bahkan mencapai milyaran rupiah.  Ia telah berupaya kesana kemari untuk mencari uang agar dapat membayar hutangnya. Namun sejauh ini ia belum beruntung, bahkan hutangnya semakin banyak.  Ia tidak berputus asa, ia tetap berusaha dengan segala cara.  Akhirnya ia bertemu dengan salah seorang dukun yang menyarankannya untuk meminta uang kepada Nyai Ratu Kidul.  Ia pun setuju dengan saran dukun itu karena merasa sudah tidak ada jalan lain lagi.  Karena Subekti setuju, lantas sang dukun itu memberitahu cara menemui Nyai Ratu Kidul yaitu harus masuk ke salah satu goa di daerah Ujung Kulon, Banten.


Berbekat niatan yang kuat serta tekad yang telah bulat, Subekti akan menemui Nyai Ratu Kidul.  Ia telah menentukan hari keberangkatannya menuju goa di Ujung Kulon tersebut.  Namun, dalam hatinya ada sedikit rasa takut kalau harus sendirian di dalam goa.  Karena itu, ia berniat untuk mengajak Herry, salah seorang kawannya yang telah malang melintang di dunia mistik dan memiliki keberanian tinggi.


Subekti segera menemui Herry yang tinggal di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat.  Ia mengutarakan kepada Herry tentang niatnya menemui Nyai Ratu Kidul untuk meminta uang.  Herry tidak dapat menolak ajakan Subekti karena selain Subekti lebih tua, Herry juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang bersifat mistik.  Selain itu, Herry juga punya kawan yang memiliki hubungan dekat dengan Nyai Ratu Kidul.


Hari keberangkatan yang telah ditentukan telah tiba, dan mereka berdua berangkat menuju goa di Ujung Kulon tersebut. Sesampai di Ujung Kulon, mereka bertanya kepada beberapa warga tentang goa yang dimaksud  Akhirnya, berkat bantuan dan petunjuk warga, mereka sampai di goa yang dimaksud. Menurut petunjuk sang dukun, mereka harus bermalam di dalam goa tersebut dan tidak boleh tidur sampai bertemu dengan Nyai Ratu Kidul.


Mereka berdua memasuki goa saat waktu menjelang maghrib.  Saat memasuki goa, Subekti sudah merasa merinding.  Ia minta kepada Herry agar Herry saja yang menemui Nyai Ratu Kidul sehingga Herry saja yang berjaga sementara akti tidur di samping Herry. Herry tidak bisa menolak permintaan Subekti.  Ia pun berjaga.


Malam pertama Herry berjaga di dalam goa, tepatnya tengah malam, Herry merasa ada sesuatu yang datang.  Meski dalam kegelapan, Herry masih bisa melihat makhluk bersosok besar bersisik mengkilat berada tepat di depannya.  Makhluk itu melihat Herry tapi tidak berbicara apapun.  Herry hanya diam karena ia berkeyakinan bahwa sosok makhluk tersebut bukanlah Nyai Ratu Kidul.  Herry mengamati makhluk tersebut dan ternyata makhluk  tersebut berbentuk ular yang sangat besar.  Ada rasa gentar juga dalam hati Herry, tetapi karena keyakinannya bahwa ular tersebut bukanlah ular biasa, maka ia mampu meredam rasa takutnya, hingga akhirnya ular besar tersebut menghilang dari hadapannya saat menjelang fajar.


Saat pagi telah tiba, Herry membangunkan Subekti yang tidur pulas di sampingnya. Lalu mereka keluar dari goa tersebut. Herry bercerita kepada Subekti apa yang telah dialaminya. Lalu Herry menelepon kawannya yang bernama Gus Ihya' yang memiliki hubungan dekat dengan Nyai Ratu Kidul.  Ia bercerita kepada Gus Ihya' tentang apa yang sedang dilakukan dan telah dialaminya di dalam goa. Herry minta tolong kepada Gus Ihya' untuk menanyakan kepada Nyai Ratu Kidul apakah benar Nyai Ratu Kidul bisa memberikan uang kepada Subekti.  Lalu, kata Herry, Udin yang tinggal di Purwakarta, Jawa Barat itu berkomunikasi dengan Nyai Ratu Kidul.


Beberapa saat kemudian, Gus Ihya' menelepon Herry dan meminta Herry dan Subekti tidak melanjutkan ritualnya di goa tersebut karena Nyai Ratu Kidul tidak akan pernah memberikan uang kepada sembarang orang, dan Subekti bukanlah orang yang berhak mendapatkan uang dari Nyai Ratu Kidul. Menurut Herry, Udin mengatakan bahwa yang akan datang kepada mereka di goa itu adalah para siluman pengawal Nyai Ratu Kidul yang bisa saja memberikan uang tetapi akan minta imbalan atau kontrak yang berakibat tidak baik bagi diri dan keluarga Subekti.  Gus Ihya' meminta mereka segera pulang ke rumah masing-masing.


Herry menceritakan apa yang telah ia dengar dari Gus Ihya' kepada Subekti, dan Subekti bisa mengerti apa yang dimaksud Gus Ihya'.  Akhirnya mereka meninggalkan goa itu, tetapi Subekti tidak mau pulang ke rumah melainkan minta diantarkan Herry menemui Gus Ihya' karena Subekti ingin minta tolong kepada Gus Ihya'.  Akhirnya mereka bertemu Gus Ihya', dan Gus Ihya' bersedia membantu menyelesaikan masalah hutang Subekti.


Kini, Subekti bersyukur kepada Tuhan selain hutangnya telah lunas, ia juga tidak jadi minta kepada Nyai Ratu Kidul atau para Siluman Pengawal Nyai Ratu Kidul.  Ia pun menyesali perbuatannya yang menyimpang.  Ia bertaubat kepada Tuhan.

Demikian dan terimakasih telah membaca Cerita Mistik Pengalaman Meminta Uang Kepada Nyai Ratu Kidul ini.  Semoga dapat menghibur anda.

Cerita dan Fakta Permainan Jelangkung

Cerita mengenai Jelangkung mungkin sudah banyak yang mendengar,  dan cerita tentang Jelangkung ini memang tersebar luas di masyarakat. Permainan gaib memanggil arwah atau roh untuk berkomunikasi atau jelangkung sudah menjadi mainan yang sering dibicarakan. Walaupun zaman sudah maju dengan teknologi canggih, permainan yang melibatkan makhluk gaib memberi tantangan tersendiri. Berikut ini adalah Cerita dan Fakta Permainan Jelangkung.

Jelangkung adalah permainan tradisional memanggil arwah atau roh masuk ke dalam media tertentu (boneka batok kelapa, boneka yang diberi pakaian dan spidol, media berupa batang pisang, jangka, koin dan sebagainya). Ada mantra pemanggil jelangkung yang harus diucapkan. Jika mantra ini berhasil, maka boneka batok kelapa atau media apapun akan bergerak dengan sendirinya.



Cerita tentang Jelangkung rupanya bukan sekedar cerita bohong atau mengada-ada karena dalam cerita itu ada anggota masyarakat yang terlibat. Entah kalimat apa yang tepat untuk digunakan dalam kasus ini, permainan atau ritual, yang jelas dalam cerita tentang Jelangkung ini ada ritualnya dan ritual Jelangkung ini biasanya hanya untuk bermain-main belaka.

Welly, 63 th, warga Menteng Jakarta Pusat menceritakan kepada infomistik saat ditemui di kiosnya bahwa mulanya dia tidak percaya adanya mahluk gaib yang bisa masuk ke peralatan-peralatan dapur yang biasa digunakan dalam permainan Jelangkung.  “Ini bukan sekedar cerita orang tetapi ini salah satu pengalaman hidup yang saya lakukan.  Suatu malam sehabis mengaji saya dan kawan-kawan, waktu itu kami berlima, sedang berkumpul di sebuah tanah lapang di dekat rumah guru ngaji saya, lalu ada kawan yang punya ide main Jelangkung.  Kontan saja semua tertarik dan segera mengumpulkan barang-barang peralatan dapur, ranting, tali, kertas dan pensil.  Dalam waktu singkat semua peralatan dirangkai dan sudah siap untuk dimainkan.  Namun ketika semua sudah siap, kawan-kawan tidak ada yang berani memegang peralatan tersebut dan akhirnya saya yang jadi pemegang peralatan itu dan kami berlima membaca mantera untuk memanggil Jelangkung.  Setalah mantera kami baca tujuh kali, Jelangkung datang.  Peralatan yang saya bawa terasa lebih berat dan pensil menunjuk ke kertas”. Cerita  Welly kepada infomistik, Minggu 20/01/2013.

“setelah Jelangkung datang saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada Jelangkung dan dia (Jelangkung-red) bisa menjawab dengan menggerakan pensil untuk menulis di kertas yang sudah tersedia”. Tambah Welly. Ditanya tentang pertanyaan apa yang diajukan waktu itu, Welly menjawab “ya namanya juga kita masih anak-anak, yang kami tanyakan ya seputar siapa namanya, umur berapa, kapan matinya, mati dimana dan matinya karena apa. Yang datang waktu itu namanya “off-the record” yang meninggal karena dibunuh oleh perampok”.  Cerita Welly.

Cerita tentang pertanyaan yang diajukan kepada Jelangkung memang beragam, mulai dari sekedar tanya identitas diri, tapi ada juga yang bertanya tentang nomor judi yang bakal keluar.  Lalu apa sebenarnya Jelangkung itu?.

Mitos tentang Jelangkung kuat dugaan berasal dari sebuah kepercayaan bangsa China terhadap adanya kekuatan roh Poyang dan Moyang (bandingkan dengan sebutan: Nenek Moyang) yaitu 'Cay Lan Kung' dan 'Cay Lan Tse'. Sementara Untuk persoalan kepercayaan serupa itu, di Jawa dikenal istilah Ni Towong. Hal ini bisa dipandang sama disebabkan oleh kisah mitos dan kepercayaan yang menyelimuti keduanya tidak ada perbedaan.

'Cay Lan Kung' atau yang kita kenal sekarang dengan nama Jelangkung, di tempat asalanya (China) adalah sebuah ritual memanggil roh Poyang dan Moyang yang dipercaya berperan sebagai pelindung anak-anak. Roh Poyang dan Moyang itu dipanggil agar masuk ke sebuah boneka kayu yang tangannya dapat digerakkan. Pada ujung tangan boneka tersebut diikatkan sebuah alat tulis. Boneka kayu itu juga dihiasi dengan pakaian manusia, dikalungi kunci dan dihadapkan ke sebuah papan tulis. Apabila pada saat si boneka tersebut menjadi berat, yang menurut mereka menjadi pertanda bahwa boneka itu telah dirasuki roh, dan bergerak mengangguk sebagai pertanda setuju setelah ditanyakan siap tidaknya untuk ditanyai, jawaban-jawaban dari semua pertanyaan yang diajukan akan dituliskan oleh si roh yang merasuki boneka tersebut pada papan tulis yang disediakan.

Dengan latar belakang kepercayaan yang sama, di Jawa, ritual Ni Towoh adalah ritual pemanggilan roh serupa ritual Cay Lan Kung tadi. Sementara media yang digunakan untuk menampung roh yang dipanggilnya adalah lewat gayung-sibur penyauk air yang diiringi dengan nyalaan perapian. Sementara itu, kita mengenal bahwa pada jaman dulu gayung-sibur itu terbuat dari tempurung kelapa yang digagangi kayu. Dan itulah sebabnya kenapa pada perkembangan mitos Cay Lan Kung di Indonesia sekarang lebih dikenal dengan ritual pemanggilan roh lewat boneka berkepala tempurung kelapa yang didandani pakaian.

Terima kasih terlah membaca Cerita dan Fakta Permainan Jelangkung.ini dan semoga dapat menghibur anda.

Cerita Mengusir Hantu Pocong dengan Sapu Lidi

Cerita tentang hantu memang mengasyikkan. Terlepas percaya atau tidanya tentang adanya hantu, namun banyak orang mengaku telah pernah melihat hantu. Cerita Mengusir Hantu Pocong dengan Sapu Lidi ini diangkat dari sebuah peristiwa yang dialami oleh Deny dan Istrinya.  Peristiwa ini terjadi sekitar 15 tahun lalu di sebuah desa kecil di di daerah Kanigoro, wilayah kabupaten Blitar, Jawa Timur, tempat Deny dan istrinya tinggal. Berikut ini adalah Cerita Mengusir Hantu Pocong dengan Sapu Lidi, cerita kiriman dari Deny di Blitar.

Sebelumya perkenalkan nama saya Deny.  Saat ini saya berusia 45 tahun.  Saya dan istri saya tinggal di daerah Kanogoro, Blitar, Jawa Timur.  Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman bertemu hantu pocong.  Kalau cerita bertemu hantu, sebenarnya saya termasuk orang yang tidak jarang bertemu dengan berbagai jenis hantu. Cerita saya bertemu hantu pocong ini adalah kisah nyata yang terjadi pada 15 tahun yang lalu.  Kejadiannya pada waktu malam sekitar jam 10 malam di depan rumah saya.



Kampung kami memang waktu itu masih sangat sepi, masih banyak kebun dan pohon-pohon  besar dan tinggi.  Jumlah rumah juga masih sedikit dan terpencar-pencar, jalanan gelap di waktu malam karena belum ada penerangan jalan, berbagai macam hantu seperti pocong, gondoruwo, wewe gombel dan lain sebagainya juga sering menampakkan diri. Tidak seperti sekarang, kampung kami sudah ramai, rumah penduduk juga sudah banyak, pohon-pohon besar juga tinggal beberapa batang saja, jalanan sudah terang benderang sehingga para hantu itu juga jarang bahkan sudah lama tidak menampakkan diri, mungkin gerah atau malu barangkali.

Waktu itu saya sedang duduk di teras sambil ngobrol cerita sana-sini dengan istri saya serta mas Giman, tetangga rumah. Waktu itu saya dan mas Giman adalah penduduk baru di kampung itu. Saat lagi asik-asiknya ngobrol, mas Giman yang duduknya menghadap ke arah kebun yang rimbun dengan pepohonan besar terllihat gagap sambil menunjuk ke arah kebun itu, “ono opo mas”, tanyaku kepada mas Giman “ppppp” jawab mas Giman tidak jelas, lalu saya dan istri saya menengok ke arah yang ditunjuk mas Giman, ternyata ada hantu pocong di bawah pohon trembesi besar di kebun itu. “ooo, ono pocong to, yo wis ben to, wis biasa nang kono iku mas, ora usah kaget ”, kata istri saya yang juga melihat hantu pocong itu.  Akhirnya kami ajak mas Giman masuk ke ruang tamu dan kami tenangkan.

Sekitar limabelas menit beselang dari saat masuk ruang tamu, saya dengar di luar ada teriakan-teriakan, ada yang berteriak “toloooong-tolooooong”, ada yang berteriak “pocooong-pocooong”, dan ada yang berteriak “kursiiii-kursiiiii”, lalu saya dan istri saya keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi, Astaghfirullah, ternyata beberapa ibu-ibu yang pulang dari pengajian ketakutan melihat hantu pocong tadi yang kini ada di pinggir jalan yang mereka lalui.  Dengan cepat istri saya mengambil sapu lidi di halaman rumah kemudian dia menghampiri hantu pocong itu sambil dan memukul hantu pocong itu dengan sapu lidi sambil berteriak “rono, miriho, rono, rono (sana, menyingkirlah, sana, sana -red)“, lalu hantu pocong itupun pergi menghilang.

Setelah hanttu pocong itu menghilang, kami ajak ibu-ibu itu masuk rumah untuk kemi beri minum aga ternang.  Setelah tenang, saya bertanya kepada mereka “tadi ada yang teriak kursi kursi tadi siapa bu?”, tanya saya. “Kulo mas Deni, maksude kulo ajeng maos ayat kursi tapi mboten saget kewoco, sing medal malah kursi kursi mawon (saya mas Deny, maksudnya saya mau baca ayat kursi buat ngusir hantu pocong itu, tapi gak bisa kebaca, yang keluar malah kursi kusri saja)”, Jawab Bu Lastri, karuan saja kami yang di situ jadi tertawa dibuatnya.

Ya, mungkin sama dengan saya, istri saya juga tidak pernah merasa takut dengan penampakan hantu.  Dia pernah cerita kepada saya bahwa sejak kecil dia sudah terbiasa melihat hantu. Saya sendiri juga begitu.  Bagi saya, hantu juga makhluk Tuhan, sama seperti saya, dan sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada orang meninggal karena digigit hantu.  Jadi menurut saya tidak ada alasan untuk takut kepada hantu, buktinya, jika kita berani seperti yang sudah dilakukan oleh istri saya, ternyata hantu yang takut kepada kita.

Demikianlah Cerita Mengusir Hantu Pocong dengan Sapu Lidi dari saya, semoga dapat menghibur anda. Lain waktu saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menulis cerita lagi buat para pembaca cerita mistik tercinta.  Salam dari saya, Deny.

Cerita Siang Bolong Bertemu Hantu Berpayung Hitam di Simpang Dago

Jika pergi ke Kota Bandung, pasti tidak lengkap apabila tidak berkunjung ke Jalan Dago. Di jalan ini banyak Factory Outlet dan tempat kuliner yang enak; bahkan kalau malam minggu, Jalan Dago dijadikan tempat nongkrong bagi kalangan anak muda. Selain sebagai tempat wisata,di  kawasan Dago ini banyak  memiliki cerita seram dan mitos yang beredar di kalangan masyarakat.  Berikut adalah Cerita dari Lia, gadis muda Mahasiswi Universitas Padjajaran yang berjudul Cerita Siang Bolong Bertemu Hantu Berpayung Hitam di Simpang Dago.

“Sewaktu aku masih kecil, ibuku sering bilang bahwa mahluk halus tidak hanya keluar atau menampakan diri pada malam hari saja, bisa juga keluar siang hari. Aku tidak percaya karena mungkin hanya alasan ibuku agar aku tidak main di luar rumah di siang hari saat waktu tidur siang. Tapi sekarang saat aku jauh dari Ibuku, ucapan ibuku itu terbukti saat aku mengalami perisiwa aneh.  Aku kost di Sukajadi, dan kuliah di UNPAD Jatinangor. Peristiwa yang kualami ini berawal dari perjalanan pulang dari kampus menuju tempatkost ku” tutur Lia mengawali ceritanya.



“Pas hari Jum’at siang, sepulang kuliah aku berniat pulang. Aku menunggu angkot Cicaheum Ciroyom tepat di depan kampus UNPAD Dipatiukur. Karena hari Jum'at, angkot yang beroperasi sangatlah sedikit. Dengan penuh kesabaran aku menunggu angkot yang lewat  meskipun di bawah terik matahari sangat menyengat siang itu . Sekitar setengah jam aku menunggu, akhirnya datang juga sebuah angkot yang berpenumpang 3 orang tanpa kernet. Karena kosong, aku mendapatkan tempat duduk tepat dibelakan pak supir, sehingga pandanganku langsung menghadap pintu masuk angkot.”

“Mungkin karena baru mendapatkan empat penumpang, sang supir menjalankan angkotnya perlahan. Dalam perjalanan sebelum lampu merah Dago, aku melihat seorang perempuan berdiri di sisi jalan, mencoba mencegat angkot yang kutumpangi. Karena angkot berjalan lambat aku sempat memperhatikan perempuan itu. Perempuan itu mengenakan rok terusan berwarna hitam dengan bunga-bunga warna kuning, rambut ikal terurai melewati bahu, dengan membawa payung hitam. Aku tertawa sendiri melihat penampilan wanita itu, siang hari bolong panas begini memakai pakaian yang di dominasi warna hitam”.

“Aku merasa heran, angkot yang kutumpangi ternyata tidak berhenti tepat di mana perempuan itu berdiri menghentikan angkot ini. Sang supir malah memberhentikan tiga meter melewati  perempuan itu, tepat di depan tiga orang laki-laki yang juga menghentikan angkotku. ‘Ah mungkin milih penumpang yang banyak kali’ pikirku. Tapi aneh juga rasanya, hanya tiga meter dari angkot, perempuan itu tidak bergeming sedikitpun mendekati angkot yang kutumpangi.  Aku hanya berguman ‘sombong sekali perempuan itu, nggak mau capek dikit.’ Akhirnya angkot pun pergi meninggalkan perempuan itu.”

Setelah melewati Simpang Dago, dekat jalan Sumur Bandung angkot berhenti lagi karena ada penumpang seorang ibu dan anak kecil. Tak jauh dari tempat ibu dan anak kecil itu berdiri, ternyata berdiri seorang perempuan, dan ‘ ya ampun, perempuan itu kan perempuan yang tadi’ pikirku heran. Aku bisa pastikan bahwa perempuan itu adalah perempuan yang kulihat sebelum lampu merah Dago, Baju, Rambut dan Payung yang dia bawa sama persis."

“Aku mencoba untuk meyakinkan pandanganku dengan membuka mata dengan lebar –lebar, ‘masa sih, perempuan yang tadi?. Ah ini hanya kebetulan saja’ pikirku.  ‘ Tapi bagaimana bisa, sama muka, sama pakaian yang dia pakai?’.  Dalam angkot timbul pertanyaan-pertanyaan aneh yang menyelinap dalam benakku. Akhirnya aku menyimpulkan mungkin hanya halusinasi saja, karena udara panas dan aku sendiri sudah lelah. Akhirnya angkot yang kutumpangi kembali meneruskan perjalanan. Dan seperti pertama kulihat, perempuan itu hanya berdiri saja tidak bergeming sedikitpun untuk berusaha untuk menaiki angkot yang kutumpangi”.

“Tepat di di pertigaan Jalan Siliwangi, di belokan ke ITB tidak jauh dari tempat angkot Cicaheum-Ledeng ngetem, teriakan ‘Kiriii..!!!!!’ dari salah satu penumpang membuyarkan pikiranku, saat itu juga aku memberikan jalan kepada penumpang yang akan turun. Seperti biasanya aku selalu melihat ke arah luar angkot. Tapi 'ya ampun’ disisi jalan dekat pagar kawat berduri, tepat di depan pintu menghadap langsung ke arahku, berdiri seorang perempuan , dan perempuan itu adalah perempuan yang kulihat tadi, baju, rambut dan payung sama persis, karena berhadap-hadapan kurang lebih 4 meter, aku melihat jelas wajah perempuan itu dengan jelas. Perempuan muda itu bermata sipit, hidungnya bulat, tidak mancung, mukanya pucat pasi, dan dia tersenyum menatap kearahku. Beberapa detik aku terkesima tak bergerak dan bulu kuduku merinding disertai keringat dingin yang mulai mengucur. Beberapa detik setelah itu terasa olehku ada tangan yang menepuk-nepuk bahuku, rupanya ibu yang duduk disebelahku . ‘kenapa Neng ? Kelihatanya nggak enak badan'ya ?‘ tanya ibu itu. Aku terdiam sesaat ‘ehhh, nggak Bu, perempuan itu’  jawabku sambil menunjuk kearah perempuan itu.Tapi, wanita itu menghilang “. Cerita Lia.

Demikian Cerita Siang Bolong Bertemu Hantu Berpayung Hitam di Simpang Dago ini dikutip dari infomistik.  Semoga dapat menghibur anda.

Cerita dan Fakta Hantu Balai Kota Kediri

Cerita tentang hantu, makhluk halus dan lain-lain yang terkait dengan mistik memang tak pernah ada habisnya dan selalu menarik untuk disimak dan diceritakan. Kali ini akan menyajikan pengalaman seseorang yang bertemu dengan hantu di Balai Kota Kediri. Keangkeran Balai Kota itu memang dapat dirasakan hampir di semua sudutnya, terutama di lorong depan tempat parkir mobil Walikota, Wakil Walikota, dan Sekretaris Daerah Kota Kediri.   Berikut adalah Cerita dan Fakta Hantu Balai Kota Kediri


Cerita adanya hantu di Balai Kota Kediri yang beredar di masyarakat sekitar ternyata bukanlah isapan jempol semata. Siapa menduga Balai Kota yang terletak di di Jalan Basuki Rachmad, Kelurahan Pocanan, Kecamatan Kota tempat walikota berkantor itu menyimpan kisah angker.



Berikut adalah perbincangan dengan Wawan, 42 th, pria asal kelurahan Kandat Kabupaten Kediri yang menurut cerita beberapa orang baru saja melihat hantu di Balai Kota Kediri.

“malam Minggu kemarin (26/01/2013-red), ya sekitar jam setengah sebelas malam, saya jalan kaki lewat depan Balai Kota menuju Jalan Doho, mau makan nasi pecel.  Pas di depan pintu gerbang saya menoleh ke arah Balai kota karena ada suara anak-anak dari Balai Kota, saya melihat ada perempuan berbaju putih berambut panjang serta tiga anak sedang bermain di halaman Balai Kota, lalu hilang begitu saja.” Cerita Wawan.

“lalu saya bilang ke seorang laki-laki yang juga pas lewat di situ ‘mas, saya tadi lihat ada perempuan dan anak-anak bermain di situ terus hilang, di sini ada hantunya ya?’, orang itu menjawab dengan ringan ‘biasa mas, gak usah takut, mereka hanya sekedar menampakkan diri tapi tidak pernah menakuti apalagi mengganggu’ kata orang itu. Saya terkaget lagi setelah orang yang saya tanya itu juga tiba-tiba hilang dari depan saya. Ternyata yang saya tanya juga hantu” lanjut wawan.

Banyaknya cerita masyarakat yang membenarkan keberadaan hantu di Balai Kota Kediri itu ternyata tidak membuat pemerintah setempat terganggu. Hantu-hantu tersebut dibiarkan saja. Kasubbag Pemberitaan Humas Pemkot Kediri Afif Permana, sebagaimana diberitakan detiksurabaya.com  membenarkan adanya pembiaran keberadaan hantu di balai kota. Diakuinya, meski sering kali muncul hantu-hantu tersebut belum menunjukkan gangguan.

Menurut Afif, adanya penampakan hantu di tempat kerjanya itu kemungkinan tak lepas dari usia balai kota yang sudah cukup tua, yaitu didirikan pada kisaran tahun 1960 dimana sebelumnya adalah Kantor Staf Kolonial Belanda yang bertugas di Karesidenan Kediri.

Catur, salah satu personel Satpol PP Kota Kediri,  menceritakan bahwa lokasi-lokasi yang diyakini angker, diantaranya eks ruangan Bagian Humas dan Protokol yang saat ini menjadi Kantor Satpol PP, bagian timur balai kota dan lantai dua ruangan Bagian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). "Yang paling ngeri di ruangan Satpol PP dan lantai dua Bapeda. Tapi bentuknya bagaimana saya tidak bisa jelaskan, karena saya sendiri belum pernah menemuinya. Teman-teman yang jaga sering menemui dan menceritakannya," jelas Catur.

Di ruang eks ruangan Bagian Humas dan Protokol, hantu yang terlihat dalam bentuk anak-anak, yang acap kali menampakkan diri dan mengganggu. Salah satu bentuknya adalah mengacak-acak susunan berkas, yang setiap kali jam kerja berakhir ditata rapi.

Keangkeran Balai Kota Kediri bukan hanya dirasakan di dalam gedung tetapi  juga dirasakan dan dijumpai di luar. Salah satunya pohon beringin tua yang ada di lokasi parkir pegawai. Konon pohon tersebut adalah rumah tempat hantu wanita tinggal. Hingga tak ada yang berani menebangnya.

Demikian Cerita dan Fakta Hantu Balai Kota Kediri. Semoga dapat menghibur anda


Cerita Keranda Mayat Berjalan Sendiri di Koridor Rumah Sakit

Cerita Keranda Mayat Berjalan Sendiri di Koridor Rumah Sakt  ini diangkat dari pengalaman sebuah pengalaman yang dialami Suseno, tujuh belas tahun yang lalu. Waktu itu, Suseno sedang menjaga kawannya yang sedang drawat di sebuah Rumah Sakit Umum di Malang. Saat tengah malam, karena kelelahan dan tidak bisa tidur, Ia duduk di pinggir koridor rumah sakit sambil menyelonjorkan kaki. Saat itulah ia melihat ada keranda mayat yang berjalan sediri di koridor itu.  Berikut adalah cerita Keranda Mayat BerjalanSendiri di Koridor Rumah Sakit itu.

Waktu itu, aku sedang menjaga kawanku yang dirawat di rumah sakit karena sakit  sakit tipes.  Pas tengah malam aku tidak bisa tidur, aku keluar kamar dan ke koridor utama Rumah Sakit Umum itu untuk menghirup udara segar. Karena tengah malam, suasana koridor sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat duduk-duduk di samping koridor.  Lalu aku juga duduk di samping koridor utama itu.

Sambil duduk aku membaca buku cerita ko ping ho yang sengaja aku bawa untuk menemaniku dikala aku sendiri.  Sesekali aku menoleh kiri kanan untuk sekedar melihat suasana, lalu meneruskan membaca cerita.  Karena di koridor utama,  sesekali aku melihat para perawat maupun dokter melintasi di depanku.
Satu jilid buku cerita kopingho telah kubaca habis. Beberapa saat kemudian, rasa kantuk mulai menghingapiku. Kulihat  jam tangan butut merk SEIKO kesayanganku menunjukkan waktu sudah pukul 02.15 dinihari.  Mataku sudah perih, sudah tak uat melanjutkan untuk membaca sambungan cerita ko ping ho pada jilid berikutnya.  Berkali-kali sudah aku menguap.  Ingin rasanya aku merebahkan badan ini, tapi tak mungkin aku lakukan di koridor itu.

Karena kelelahan duduk menekuk kaki, tak sengaja aku menyelonjorkan kaki.  Aku tak menyadari kalau kakiku akan menghalangi atau paling tidak mengganggu orang yang melintasi. Tiba-tiba aku melihat ada keranda mayat berjalan ke arahku. Aku  tak memperdulikannya karena hal itu biasa terjadi di rumah sakit.  Keranda mayat itupun melintasi di depanku. Aku cuek saja.

Setelah beberapa saat baru aku menyadari ada sesuatu yang aneh. “Mestinya kakiku yang terselonjor akan menghalangi jalannya keranda itu, dan orang yang mendorong keranda pasti menegurku”, kataku dalam hati.  “Tapi kenapa keranda itu berjalan tanpa terganggu atau terhalangi kakiku ?”, tanyaku pada dirku sendiri. Ya. Aku ingat, keranda mayat itu melintasi didepanku dan melindas kakiku tapi aku tidak merasakan terlindas apa-apa, dan keranda mayat itu berjalan sendiri tanpa ada orang yang mendorongnya. Mulai muncul rasa takutku, aku sedkit merinding sampai berdiri bulu kudukku.

Lalu aku bediri dan berjalan mendekati dua orang yang juga duduk di pinggir koridor yang tak jauh diriku, lalu aku bertanya kepada mereka “maaf pak, barusan melihat ada keranda mayat yang lewat di sini kan?”. “Gak ada mas, dari tadi yang lewat di sini cuma ada beberapa perawat saja, saya lihat dari tadi mas asyik baca buku sendirian di situ, kok tiba-tiba tanya keranda mayat. memangnya ada apa mas?” Orang yang terlihat lebih tua menjawab sambil bertanya kepadaku.

Sejenak aku bingung, “kok mereka tidak melihat ada keranda mayat yang barusan lewat, aneh” kataku dalam hati.  Aku dikagetkan dengan pertanyaan orang yang lebih muda “ada apa mas, kok kelihatannya seperti orang kebingungan?”. Akupun segera menjawab “nggak, nggak apa-apa, bener  bapak tidak melihat keranda mayat tadi?”, tanyaku kembali kepada mereka. “bener mas, saya tdak melihat, memangnya kenapa?”, tanya orang yang lebih tua.

“tadi saya melihat ada keranda mayat lewat di depan saya, kan kaki saya selonjor ke depan, mestinya kan kaki saya menghalangi rodanya, tapi keranda itu melintasi seperti tanpa terhalang apa-apa, dan kaki saya juga tidak merasa terlindas roda keranda itu.  Dan lagi, keranda itu berjalan sendiri, tdak ada orang yang mendorong pak”, kataku menjelaskan.

“waduh, pasti hantu itu”, kata orang yang lebih muda sambil merapat ke orang yang lebih tua. “ya sudahlah, gak usah dipikir mas, namanya juga di rumah sakit. Ada hantu di rumah sakit sudah jadi rahasia umum mas, sudah biasa”, kata orang yang lebih tua. “ah, biasa bagaimana, aku nanti pagi pulang, gak mau nginep di rumah sakit lagi, takut”, kata orang yang lebih muda. “kamu ini kenapa takut, mas ini yang melihat saja tidak takut, kenapa kamu yang tidak melihat malah takut?, ya nggak mas?”, kata orang yang lebih tua. “ya sebenarnya agak merinding juga sih, tapi mau bagaimana lagi?, namanya juga harus menjaga kawan”, jawabku.


Demikianlah Cerita Keranda Mayat Berjalan Sendiri di Kordor Rumah Sakit ini.  Terima kasih telah mengunjungi blog Cerita Mistik, Semoga dapat menghibur anda.

Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong Membeli Bakso

Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong Membeli Bakso adalah cerita mistik yang dialami oleh Edi, penjual bakso.  Edi, seorang penjual bakso keliling di sebuah perumahan di Jakarta Timur.  Cerita ini diangkat dari sebuah peristiwa yang dialaminya saat ia  sedang menjual bakso di perumahan tersebut. Ia bertemu dengan hantu Sundel Bolong yang membeli baksonya.  Peristiwa ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Berikut ini adalah Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong Membeli Bakso.

Nama saya Edi, Saya menjalani pekerjaan saya berjualan bakso keliling di komplek perumahan tersebut sudah cukup lama, yaitu sejak 15 tahun yang lalu.  Tapi, sejak saya berjualan di perumahan itu, baru kali itu saya bertemu hantu.  Saya memang berjualan malam hari, berangkat selepas shalat maghrib dan sampai di perumahan itu biasanya pas waktu shalat Isya’.  Biasanya saya pulang dagang sekitar jam 11.30 malam.
Waktu itu, sekitar 3 tahun yang lalu, setibanya saya di komplel perumahan itu, tidak seperti biasanya saya langsung berkeliling komplek tapi saya nongkrong dulu di tempat cucian mobil yang ada di komplek perumahan itu.  Di tempat cucian mobil itu, sampai jam 8 malam, belum juga saya dapat penglaris walaupun cucian mobil sedang ramai.  Akhirnya saya berjalan mendorong gerobak bakso saya untuk  berkeliling menjajakan bakso sambil memukul-mukul kentongan kentongan berharap ada yang membeli bakso saya.

Tidak seperti biasanya pula, saya berjalan di sisi kanan jalan, saya tidak tahu kenapa.  Setalah melewati 4 rumah dari tempat cucian mobil itu, di depan saya ada seorang wanita berambut panjang bergaun putih menghentikan saya, “baksonya dong bang, campur ya”, kata wanita itu.  Saya bersyukur, Alhamdulillah, akhirnya dapat juga penglaris malam ini, kata saya dalam hati.  Tanpa banyak bicara, saya langsung melayani permintaan wanita itu.  Setelah selesai menyiapkan pesanannya, saya sodorkan semangkok bakso kepada wanita itu, “ini mbak”, kata saya, dan wanita itu menerimanya.

Sambil menunggu ia makan, saya turunkan kursi plastik yang ada di atas gerobak bakso saya agar saya bisa duduk menunggu wanita itu selesai makan baksonya. Baru saja kursi plastik saya taruh di atas tanah dan saya belum sempat duduk, wanita itu sudah menyodorkan mangkok kosong kepada saya sambil berkata “lagi dong bang, lapar nih”.  Tanpa banyak tanya, saya layani saja permintaan wanita itu. Setalah selesai menyiapkan permintaannya, saya sodorkan semangkok bakso kepada wanita itu, “ini mbak”, kata saya dan wanita itupun menerimanya.

Lalu saya duduk lagi.  Baru saja saya duduk, wanita itu sudah mengembalikan mangkok kosong kepada saya sambil berkata “tambah satu lagi ya bang, benar-benar lapar nih”. “ya mbak, tenang saja kalau sama saya mah”, jawab saya sambil menyiapkan permintaannya.  Setelah selesai, saya sodorkan lagi semangkok bakso kepada wanita itu.  Setelah diterimanya, saya duduk lagi. Dan baru saja saya duduk, wanita itu sudah menyodorkan mangkok kosongnya  “makasih ya bang, ini uangnya, kembaliannya buat abang saja ya”, katanya sambil memberikan selembar uang kertas duapuluh ribuan. “ya mbak, makasih juga”, kata saya sambil memasukkan uang ke saku.

Saat itu saya baru sadar bahwa ada yang aneh, lalu saya perhatikan wanita itu ternyata berjalan memasuki kebun yang ada di pinggir jalan dan masuk ke rerimbunan, dan saya melihat punggungnya berlubang dan berdarah. “Waduh, Hantu Sundel Bolong”, kata saya dalam hati.  Tanpa banyak pikir, saya angkat kursi plastik dan saya taruh kembali di atas gerobak dan bergegas pergi dari tempat itu.

Saya menyeberang agar tidak di sisi kebun, pas sampai pertigaan, saya belok kiri menuju masjid.  Sampai di masjid saya langsung duduk di tangga serambi sambil menenangkan diri. Saya masih teringat bayangan hantu Sundel Bolong itu. Terus terang, hati saya deg-degan, seumur-umur baru kali ini saya bertemu hantu.

Tidak berapa lama saya duduk, tiba-tiba ada banyak orang memasuki halaman masjid, kira-kira ada kalau 100 orang. Lalu mereka memasuki masjid dan shalat berjama’ah.  Rupanya mereka adalah rombongan wisata majlis ta’lim, ada dua bis di jalan depan masjid.

Usai mereka shalat berjama’ah, mereka seperti berebut  membeli bakso saya, saya sampai kerepotan.  Dan baru kali ini saya diserbu pembeli.  Tapi dengan sabar saya layani mereka satu persatu, sampai habis dagangan saya, sementara masih banyak yang belum kebagian.

Saat menerima pembayaran, saya juga kerepotan menerima uang dan memberikan uang kembalian, tapi  mereka malah tidak mau dikasih uang kembalian.  Ada yang bayar 10 ribu, ada yang 20 ribu.  Lalu merekapun kembali ke bus mereka.

Setelah bus mereka berangkat, sayapun mendorong gerobak untuk pulang, tapi tidak lewat jalan yang tadi saat saya ketemu hantu sundel bolong.  Sambil berjalan saya bersyukur “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah”, kata saya dalam hati sepanjang perjalanan.
Saya sampai di rumah pas pukul 10 malam.  Setelah saya hitung, malam itu saya medapat uang 2.5 juta rupiah. Alhamdulillah.


Demikianlah Cerita Melayani Hantu Sundel Bolong MembeliBakso ini, semoga dapat menghibur anda,

Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan



Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan ini diangkat dari peristiwa yang kami alami. Tiga tahun yang lalu, kami sekeluarga terpaksa harus pindah rumah kontrakan.  Waktu itu kami bingung harus pindah kemana. Setelah mencari-cari informasi rumah kontrakan yang kosong di sekitar tempat tinggalku, akhirnya aku menemukan satu rumah petak yang ada di sudut pertigaan jalan.  Di rumah itulah Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan ini terjadi. Tempatnya cukup strategis untuk usaha, di pinggir jalan, walaupun jalan kecil tetapi cukup ramai. 

Setelah melihat situasi yang cukup ramai ini, akupun berpikir untuk buka usaha berjualan pulsa agar bisa membantu pendapatan keluarga, kebetulan ada etalase nganggur, pas buat usaha jual pulsa. Tanpa banyak pikir, kami langsung membayar uang kontrak kepada pemilik rumah agar kami segera bisa pindah ke rumah kontrakan yang baru itu.

Sebelum kami sekeluarga menempati rumah kontrakan yang baru itu, suamiku terlebih dahulu membersihkan rumah itu dan melakukan sedikit ritual dengan membaca do’a-do’a untuk memohon kepada Tuhan agar kami mendapat berkah dari-Nya. Setelah itu baru kami sekeluarga pindah dan menempat rumah kontrakan itu. 

Setelah semua barang-barang sudah kami pindahkan ke rumah kami yang baru, kami langsung menata semua perabot rumah, tidak terlalu lama karena barang-barang kami memang tidak banyak. Akupun langsung meletakkan etalase  di teras rumah untuk tempatku usaha berjualan pulsa. Meskipun cukup melelahkan, tapi kami senang dan merasa nyaman di rumah kontrakan kami yang baru itu. Saat itu juga, aku tetepon kakakku untuk dibantu modal buat usaha berjualan pulsa, dan uang modal pun langsung ditransfer ke rekeningku.  Aku langsung belanja pulsa ke agen pulsa.  Aku juga minta banner ke agen pulsa untuk dipasang di teras rumah tempat aku usaha jual pulsa.

Selesai belanja pulsa dan segala perlengkapannya akupun pulang dan sampai di rumah pas menjelang maghrib. Aku langsung pasang banner dan menata semua perlengkapan usaha jualan pulsa di etalase.  Semua berjalan lancar dan cepat.  Semua selesai pas adzan maghrib dikumandangkan di mushalla dekat rumah kontrakan.  Lalu kami sekeluarga bersama-sama pergi ke mushalla untuk  menunaikan shalat maghrib berjama’ah di mushalla.

Malampun tiba, usai shalat isya’ dan makan malam, kami segera tidur karena cukup kelelahan seharian mengatur dan menata rumah kontrakan kami yang baru serta belanja pulsa dan  segala perlengkapan usaha berjualan pulsa.  Kamipun segera terlelap.

Seperti biasa, pas jam 12 malam aku terbangun, aku menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur untuk mengambil air wudlu’ untuk melakukan shalat malam. Saat membuka kelambu pintu dapur, aku terkejut, ada sosok wanita berkerudung hitam berdiri di dapur melihatku. “Astaghfrullahal ‘Adzim”, ucapku spontan.  “jangan takut, aku memang sengaja menemuimu. Namaku Laras, aku juga tinggal di rumah ini, tapi aku tidak akan mengganggumu dan semua keluargamu.  Aku suka kalian tinggal d rumah ini, kalian rajin shalat dan mengaji, au juga akan membantu usahamu. Insya Allah lancar dan beruntung. Assalamu’alaikum”, kata wanita itu dan langsung menghilang. “wa’alaikumussalam”, jawabku.  Dengan dada mash berdebar karena rasa kaget bercampur takut, aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu’, lalu aku melakukan shalat malam dan berdo’a sebisaku.  Usai shalat malam dan berdo’a, au kembali tidur.

Kami terbangun saat gema tarhim dikumandangkan di mushalla, pertanda sebentar lagi waktu shubuh tiba. Kami segera bergiliran mandi dan bersiap-siap menunaikan shalat shubuh berjama’ah di mushalla.  Usai berjama’ah,  aku mempersiapkan sarapan pagi. Aku beli nasi uduk di warung pok Lela, seberang rumah kontrakan.  Kamipun sarapan pagi berjama’ah. Usai sarapan, suamiku berangkat kerja dan aku mengantar  dua anakku ke sekolah.

Pulang mengantar anak ke sekolah, aku langsung cuci kaki dan ambil air wudlu’ lalu dengan membaca Basmalah aku mulai buka usaha jualan pulsa.  Aku buka kain penutup etalase, dan aku pasang tulisan “Jual Pulsa”, di atas etalase.  Hari memang masih pagi, jalanan cukup ramai. Aku duduk dan membaca buku  sambil menunggu pelanggan datang. Alhamdulllah, hari pertama aku membuka usaha Jualan Pulsa sudah mendapatkan banyak pelanggan.

Detik demi detik, dan hari demi hari kami lalui dengan usaha, do’a dan rasa syukur. Alhamdulillah, usaha sampai hari ini, jualan pulsa yang aku jalankan dengan penuh ketekunan, meskipun harus disela dengan mengurus keluarga, berjalan dengan baik dan mendapatkan keuntungan. Dan yang sangat membuatku bahagia, dari usahaku ini, selain bisa menambah pendapatan keluarga, kami juga bisa menyisihkan hasil usaha kami untuk membantu tetangga-tetangga kami yang sedang membutuhkan uluran tangan.

Tak lupa pula, setiap usai shalat, selain aku berdo’a untuk kedua orang tua, aku juga berdo’a untuk Laras, makhluk halus penunggu rumah kontrakanku.  Setidaknya, selain aku bersyukur kepada Tuhan, aku berterima kasih kepada Laras,  makhluk halus penungg rumah kontrakanku, atas dukungan moril yang diberkan saat aku berjumpa dengannya di malam itu.

Demikianlah Cerita Bertemu Hantu Baik hati PenungguRumah Kontrakan.  Semoga dapat menghibur anda.

Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso



Hantu Wanita Bergaun Putih
Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso ini diangkat dari kisah nyata kejadian yang dialami Supeno, salah seorang pedagang bakso keliling di Jakarta Timur.  Cerita Hantu memang cukup mengasyikkan, terlepas dari percaya atau tidak, cerita hantu memang ada di masyarakat. Peristiwa ini terjadi lima tahun yang lalu, pas Malam Jum’at Kliwon saat Supeno sedang berkeliling di sebuah perkampungan menjajakan bakso.  Berikut ini adalah Cerita Hantu Wanita MemesanBakso.

Malam itu, lima tahun yang lalu, tidak seperti biasanya jalanan di perkampungan tempat saya biasa menjajakan bakso terasa sepi. Sampai jam 9 malam baru 10 mangkok bakso yang saya jual.  “sepi banget ya malam ini”, kata saya dalam hati sambil berjalan mendorong gerobak bakso dan memukul-mukul kentongan untuk memberi tanda bahwa tukang bakso sedang jualan bakso.

Tepat di sebuah pertigaan jalan saya sempat bimbang, mau belok ke kiri apa ke kanan. Dua-duanya terlihat sepi.  Akhirnya saya putuskan ambil jalan kanan. Baru melewati dua rumah, ada seorang wanita bergaun putih keluar dari pagar rumah memanggil saya “bang, baksonya satu ya”. “ya bu”, jawab saya dan saya lihat wanita itu kembali masuk pagar. Sayapun langsung menyiapkan satu porsi bakso yang dipesan.
Setelah usai saya menyiapkan satu mangkok bakso pesanan wanita itu, sayapun mengantarnya ke rumah tempat wanita itu. Sampai di depan pagar saya sempat heran “kok pintu pagarnya ditutup ya, diselot lagi, padahal ibu tadi perasaan tidak membuka dan tidak menutup pagar”, kata saya dalam hati. Saya menepis keheranan saya itu, saya buka bagar. Walaupun diselot tapi tidak dikunci. Saya langung masuk menuju pintu.  Pintunya tertutup.

Sesampai di depan pintu, perlahan saya ketok “tok tok tok, permisi, ini baksonya bu”, kata saya kepada wanita tadi yang saya yakini adalah penghuni rumah ini. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, saya ketok lagi “tok tok tok, permisi, ini baksonya bu”, kata saya lagi agak keras.  Akhirnya terdengar langkah kaki dari dalam rumah dan pintupun dibuka. Yang membuka adalah seorang wanita muda dan bertanya “ada apa mas?”. “ini mbak, tadi ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso sama saya” jawab saya kepada wanita muda itu. “Ibu-ibu?, di rumah ini tidak ada ibu-ibu mas, saya di sini cuma tinggal bertiga dengan  suami dan anak saya mas”, kata wanita muda itu. “ya tadi sih masuk ke sini mbak”, kata saya.

Tiba-tiba seorang lelaki muda yang tentunya suami wanita muda ini keluar dari dalam rumah dan bertanya “ada apa sih malam-malam kok ribut”. “ini abang tukang bakso ini mengantarkan bakso, katanya ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso.  Padahal kan di rumah ini cuma kita bertiga”, jawab wanita muda itu. “gitu aja kok ribut, ya sudah, sini baksonya, biar saya yang makan, tapi bikinkan satu lagi ya buat istri saya”, kata lelaki muda itu.  Sayapun bergegas menyerahkan semangkok bakso kepadanya dan bergegas menyiapkan semangkok bakso lagi.

Setelah selesai menyiapkan, saya antar bakso ke rumah tersebut. “ini mbak baksonya”, kata saya sambil menyerahkan semangkok bakso kepada wanita itu. “duduk sini dulu mas”, kata lelaki muda itu sambil mempersilakan saya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu. “ya mas, makasih”, kata saya. Dia makan di teras, sementara istrinya masuk membawa bakso, tak lama kemudian istrinya menyerahkan mangkok yang sudah kosong kepada saya, mungkin langsung dipindah ke mangkoknya sendiri.

“emang bener tadi ada ibu-ibu pesan bakso, jangan-jangan kamu cuma ngarang aja biar baksomu laku”, kata lelaki itu berkelekar sambil tersenyum kepada saya. “untuk apa saya bohong mas, saya kan tiap hari jualan di sini, memang benar kok tadi ada ibu-ibu yang pesan”, jawab saya.
“ciri-cirinya bagaimana?” tanya lelaki muda itu. “ya ibu-ibu tidak terlalu tua sih, pakai baju panjang warna putih, rambutnya agak panjang”, jawab saya.

“lalu dari mana asalnya dan kemana?”, tanya lelaki muda itu lagi. “tadi keluar dari rumah ini dan masuk lagi ke rumah ini mas, tapi yang saya heran, saya tidak mendengar dia membuka pintu pagar dan menutup pintu pagar, padahal waktu saya masuk, pagarnya ditutup dan diselot, waktu saya buka selotnya, bunyinya cukup keras mas”, jawab saya.
“ya, tidak salah, kata orang-orang di sekitar sini, memang dia kadang-kadang muncul, tapi saya sampai hari ini belum pernah bertemu sama dia”, kata lelaki muda itu.
“maksudnya mas?”, tanya saya lagi. Lelaki muda itu menjawab “kata orang-orang di sekitar sini, dia itu makhluk halus yang tinggal di rumah ini, itu sih kata orang, kami sendiri  yang tinggal di sini belum pernah bertemu”.  Langsung merinding bulukuduk saya mendengar penjelasan lelaki muda itu, ada rasa takut menjalar di tubuh saya. Dan rupanya ketakutan saya terlihat oleh lelaki muda itu. “ya gak usah takut mas, biasa saja. Ini uangnya”, kata lelaki itu sambil menyodorkan uang sepuluhribu rupiah kepada saya. “baik mas, makasih ya mas”, kata saya sambil bergegas meninggalkan rumah itu.

Setelah selesai sata letakkan mangkok di dalam gerobak, dengan penuh rasa ketakutan, sayapun langsung mendorong gerobak menjauhi rumah itu. Sekian.   

Demikianlah Cerita Hantu WanitaMemesan Bakso.  Semoga dapat menghibur anda.

Bertemu Tiga Hantu di Kebun Durian



Hantu Gondoruwo
Bertemu Tiga Hantu di Kebun Durian. Cerita dunia mistik dan makhluk halus ternyata ada di mana-mana, di seantero jagad, apalagi di bumi nusantara tercinta ini.  Cerita Bertemu Tiga Hantu di Kebun Durian ini akan menyajikan sebuah cerita  yang dikirim oleh Subandi, pembaca setia cerita di Trenggalek Jawa Timur. Cerita ini diangkat dar sebuah perstiwa yang dialaminya lima belas tahun yang lalu bersama pamannya di kebun durian yang ada di sebuah desa di Trenggalek, Jawa Timur.  Menurut ceritanya, malam itu ia bersama pamannya sedang mencari durian di kebun, tapi bukannya durian yang mereka dapat melainkan hantu Glundungpringis.  Berikut ini adalah cerita yang berjudul “Bertemu Tiga Hantu di KebunDurian“.

Nama saya Subandi, umur 47 tahun berasal dari Trenggalek, Jawa Timur.  Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman yang saya alami bersama paman saya bertemu hantu Glundungpringis dan hantu Gondoruwo di sebuah kebun durian lima belas tahun silam.

Waktu itu, karena sedang musim durian, selepas habis shalat Isya’, dengan masing-masing berbekal  sebuah lampu senter, saya dan paman saya pergi ke kebun yang tak jauh dari rumah kami untuk mencari durian matang pohon yang jatuh untuk kami jual di pasar esok paginya.  Ya, paman saya adalah salah seorang pedagang buah di salah satu pasar tradisional di daerah kami.

Setelah kami memasuki areal perkebunan, langsung saja masing-masing dari kami menyorotkan lampu senter yang kami bawa ke setiap bawah pohon durian dengan  harapan mendapatkan durian.
Saya  memang agak takut karena bukan hanya tempat yang cukup seram tapi juga pohon duriannya yang besar and menyeramkan. Saya bilang ke paman saya "peh uwite kok gedhe temen gek nggone medeni pisan" (wah, pohonnya besar amat, mana tempatnya menakutkan lagi), lalu paman saya menjawab "lah yo ndak lawong ki wis biasa ko'e" (ya tidak, ini kan sudah biasa kok).

Setelah itu paman saya mengambil satu benda bulat besar yang ada di bawah pohon durian angker itu, tapi saya heran karena buah durian itu besar sekali sementara durian lain yang saya lihat tidak sebesar itu. Saya bilang ke paman saya “durene kok gedhe temen, lha wong liyane cilik kok" (duriannya kok besar amat, lha yang lainnya kecil kok”.

Lalu saya perhatikan dengan seksama durian yang amat besar itu dengan menggunakan indera ke-enam yang aku pelajari, dan ternyata durian amat besar itu terlihat wujud aslinya.  Kemudian saya bilang ke paman saya “kuwi ndas glundung pak, ndang guwa'en” (itu hantu glundungpringis, lekas buang), lalu paman saya segera melempar benda bulat besar itu sambil lari terbirit-birit ke arah jalan. Setelah terlempar, Hantu Glundungpringis itu menyeringai dan tertawa “hihihi” sambil menggelinding ke dalam kegelapan.
Saya masih bertahan dalam kebun itu dan terus mencari buah durian matang pohon yang jatuh.  Tiba-tiba saya kaget karena ada yang menepuk bahu saya, sayapun menoleh ke belakang, ternyata ayah saya datang menyusul untuk mencari duran juga.

Setelah beberapa saat, kami (saya dan ayah saya) melhat sosok bayangan hitam pekat dan besar dan disampingnya ada bayangan merah. Ya, sosok hitam besar itu ternyata “hantu gondoruwo”, sementara yang disampingnya yang berwarna merah cerah adalah “hantu kemamang”.

Melihat ada hantu kemamang, kami sama-sama melempar  lampu senter yang kami bawa karena hantu kemamang  akan mengejar setiap benda berkilau atau benda bersinar. Lalu kami mengeluarkan jurus-jurus dan do’a-do’a yang telah kami pelajari sehingga “hantu gondoruwo” dan “hantu kemamang” itu pergi dan menghilang dalam kegelapan.  Setelah kedua hantu itu pergi, kami menemukan dan banyak durian matang pohon yang ada di tempat hantu gondoruwo dan hantu kemamang itu, semuanya ada duapuluh satu buah.  Kami ambil dan kami masukkan ke dalam karung dan kami kami bawa pulang untuk kami jual.
Demikianlah cerita pengalaman Bertemu Tiga Hantu di KebunDurian.  Semoga dapat menghibur anda.
 
Support :